Rabu, 20 Maret 2013

SISTEM KELUAR-MASUK KAMPUS UNNES


Jalan adalah suatu penghubung antara tempat yang satu dengan tempat yang lain. Dengan adanya jalan kita tak perlu bersusah payah mencari celah ke suatu tempat dan sangat efektif untuk mempersingkat jarak dan waktu tempuh.
Menentukan jalan untuk memasuki kampus ialah hal yang terpenting dalam mempersingkat waktu dan tenaga bagi mahasiswa maupun dosen. Memilih jalan yang tercepat menuju fakultas yang dituju kita harus memperhatikan beberapa faktor yaitu; efektifitas jalur keluar-masuk wilayah kampus dan sarana prasarana yang ada di dalamnya termasuk kondisi jalan di wilayah kampus.
Kita ketahui bahwa Universitas Negeri Semarang (UNNES) merupakan satu-satunya Universitas Konservasi di Indonesia. Salah satu kebijakan baru-baru ini yang ada di Unnes berbunyi mahasiswa tidak boleh membawa kendaraan bermotor ke wilayah kampus, dengan kata lain kita diwajibkan untuk bersepeda atau jalan kaki jika ingin masuk wilayah kampus. Hal ini tentunya menjadi kontroversi bagi warga Unnes terutama bagi mahasiswa yang sangat tidak setuju dengan kebijakan tersebut.
Unnes mungkin mempunyai tujuan baik dengan larangan tidak diperbolehkan membawa sepeda motor ke kampus yaitu menjadikan kampus bebas polusi. Namun sudah tepatkah kebijakan tersebut diterapkan di Unnes karena jarak bangunan satu dengan yang lain cukup jauh dan tidak cocok untuk para pejalan kaki ataupun bersepeda.
Para pejabat yang berada di Rektorat Unnes tidak kehabisan akal dengan kontroversi yang ada. Mereka menerapkan parkir terpusat di beberapa titik. Titik-titik tempat parkir terpusat antara lain; Gedung Parkir di belakang BNI, halaman Masjid Ulul Albab, parkiran FMIPA, halaman lapangan atletik FIK, dan halaman area PKMU dengan waktu yang diberlakukan pada pukul 07.00 sampai 16.00.
Tidak jauh berbeda dengan kebijakan sebelumnya yang mengundang kontroversi diberlakukannya parkir terpusat tentu sangat menyulitkan jalan keluar-masuk kampus. Ambil contoh jalur keluar-masuk menuju Fakultas Teknik, bagi mereka yang berada di daerah Sekaran dan Patemon sangatlah mudah dan dekat jika menuju FT sedangkan yang berada di daerah Banaran dan sekitarnya jarak dan waktu tempuh menuju FT kurang efektif karena tidak bisa melalui jalan utama kampus tetapi harus memutar jalan melewati gang Cempaka Sari. Inilah salah satu kendala menuju fakultas yang berada di ujung wilayah kampus.
Sarana prasarana yang kurang sesuai termasuk salah satu kendala lain memasuki kampus. Kita lihat kondisi jalan didalam kampus mungkin tidak terlalu buruk bahkan kondisinya masih mulus akan tetapi kondisi jalan di luar kampus contohnya gang Cempaka Sari sangatlah memprihatinkan, padahal itu salah satu jalur utama untuk keluar-masuk kampus khususnya menuju FT dan FIK. Akibat kebijakan tersebut gang Cempaka Sari yang seharusnya jalan perkampungan telah berubah menjadi jalan utama masuk wilayah kampus dikarenakan volume kendaraan yang bertambah.
Dampak lain selain jalur keluar-masuk kampus maupun kondisi jalan adalah kemacetan pada jam masuk kuliah atau pergantian jam kuliah. Di gang Cempaka Sari termasuk daerah yang paling macet masalah kemacetan disebabkan oleh padatnya kendaraan, kondisi jalan yang kurang baik, dan sempitnya jalan sehingga memakan waktu tempuh padahal jalan tersebut cukup dekat menuju FT.
Beberapa masalah dapat disimpulkan bahwa simtem keluar-masuk kampus Unnes masih jauh dari kata sempurna. Kebijakan tentang kendaraan bermotor dilarang masuk kampus hingga sistem parkir terpusat masih banyak kendala dan justru malah merugikan dalam segi jarak dan waktu tempuh. Akan tetapi ada sisi positif dari kebijakan tersebut,  terutama dalam hal konservasi yaitu ingin mengurangi polusi udara akibat asap kendaraan bermotor. 
Sebagai tujuan bersama tidak selayaknya memperdebatkan atau mencari kekurangan masing-masing tetapi saling memberikan masukan positif demi kemajuan dan tumbuh-kembangnya Universitas Negeri Semarang agar lebih menjadi Universitas Konservasi yang bertaraf internasional.